Sportify.id - Bernardo Buarque de Hollanda dan Thomas Busse bertindak sebagai editor untuk menghimpun tulisan atau penelitian berkenaan dengan fans sepakbola di tanah Eropa dan Amerika Latin.
Buku dengan judul “Football Fandom in Europe and Latin America: Culture, Politics, and Violence in the 21st Century” terbitan Springer di 2023.
Buku ini lengkap memberikan penjelasan dari aspek budaya politik bahkan catatan kekerasan.
Sayangnya, Bernardo dan Busse tidak mengundang pengamat atau penulis dari Indonesia yang memiliki penggemar sepakbola yang tidak hanya banyak, tetapi juga fanatik. Saking fanatiknya kekerasan pun tidak segan untuk dilakukan oleh penggemar klub terhadap pendukung klub rival.
Beberapa kali tercatat penganiayaan yang beberapa di antaranya menyebabkan kematian. Absurditas tersebut tampil dalam realitas.
Sepakbola merupakan olahraga yang amat populer di dunia. Negara-negara besar sepakbola memiliki penggemar yang amat fanatik. Secara sosiologis, kepenggemaran sepakbola melampaui kenikmatan menonton.
Kepenggemaran sepakbola merupakan cerminan sosial budaya masyarakat. Jika meminjam Ferdinand Tonnies, kumpulan penggemar sepakbola merupakan paguyuban.
Uniknya, mereka memiliki identitas yang merangkum kepenggemaran pada sepakbola dan klub atau pun timnas negaranya. Identitas sosial penggemar sepakbola, misalnya, SSC Napoli yang merupakan masyarakat Italia yang memiliki tingkat sosial ekonomi yang lebih rendah ketimbang dua Milan, AC Milan dan Inter serta Juventus yang berada di wilayah Italia Utara.
Ketika Diego Armando diboyong Napoli dari FC Barcelona, penggemar klub memujanya. Bahkan ketika Argentina berhadapan dengan Italia di semifinal Piala Dunia 1990 di Italia, penggemar Napoli mendukung Argentina, lantaran jasa Maradona yang membawa Napoli memenangi Seri A. Kemudian nama Maradona diabadikan sebagai nama stadion yang menjadi kandang Napoli.
Dalam beberapa momen sepakbola yang tragis, pertandingan sepakbola malah mengorbankan banyak nyawa. Tragedi Heysel dalam pertandingan Liverpool 1985, bencana Hillsborough 1989, dan yang terbaru peristiwa Kanjuruhan, Malang. Seakan kepenggemaran tidak rasional dan tidak mengenal kemanusiaan. Kepenggemaran sepakbola pun menciptakan kosa kata yang khas yakni holiganisme, ultras, yang kemudian melahirkan kekerasan.
Penggemar sepakbola Inggris, Jerman dan Belanda terkenal tidak segan berkelahi jika bertemu di satu lokasi. Anonimitas tercipta dalam kesegeraan dan kedisinian dalam momen persepakbolaan, baik di dalam stadion maupun di luar stadion. Kekerasan sepertinya bagian dari kepenggemaran demikian dan berlangsung hingga saat ini.
Selain itu, kepenggemaran pun menampilkan identitas politik. Penggemar SS Lazio dikenal sebagai ultranasionalis. Dalam satu momen, penggemar klub menampilkan salam Nazi. Untuk mengurai fanatisme yang mengarah pada identitas politik kanan, pemilik klub merekrut pemain kulit berwarna.
Sebaliknya, klub rival AS Roma memiliki banyak pemain berkulit hitam yang kemudian menjadi sasaran dengan chants rasisme sepanjang pertandingan derby dela capitale melawan SS Lazio.
Merebaknya rasisme, fasisme dalam persepakbolaan dilawan dengan tagline FIFA stop racism, respect. Federasi sepakbola negara Eropa pun keras merespon rasisme. Wasit diberikan kewenangan penuh untuk mengambil tindakan atas rasisme.
Kebermabatan sepakbola dipertaruhkan. Pemerintah pun berupaya untuk menemukan simpul kekerasan, mengurai dan melepaskannya. Margaret Thatcher, Perdana Menteri Inggris 1979-1990 mendukung hukuman EUFA yang melarang klub Inggris bertanding di kompetisi Eropa selama 5 tahun akibat tragedi Heysel. Thatcher sedemikian murka, malu dan terluka dengan perilaku para penggemar sepakbola Inggris.
Kepenggemaran sepakbola melampaui sepakbola itu sendiri. Permainan indah di lapangan akan rusak ketika chant rasis terhadap pemain lawan dilakukan. Eropa adalah negara dengan tingkat pendidikan yang bagus, dalam hal demikian, sepertinya nilai-nilai keadaban yang dikampanyekan berabad-abad lenyap tak berbekas di stadion dan atau di luar venue pertandingan.
Secara umum, penggemar yang memiliki identitas yang berkenaan dengan kekerasan, garis politik tertentu. De Hollanda dan Busse menyediakan gambaran persepakbolaan yang disusupi dengan rasisme, identitas politik kanan, budaya kekerasan di wilayah Eropa Barat, Amerika Latin.
Tentu saja ini adalah ancaman nyata terhadap komodifikasi sepakbola yang sudah demikian maju dan melibatkan investasi yang sangat besar. Sungguh bagai virus, praktik kepenggemaran yang digambarkan dalam buku ini merupakan ancaman yang tidak main-main terhadap industri sepakbola.
Kepenggemaran sepakbola yang beradab adalah urusan penggemar, pemerintah, federasi, klub, masyarakat, siapa pun yang peduli dengan isu ini. Sebagai tontonan hiburan, pertandingan sepakbola dinikmati pula oleh wanita, anak-anak dan lansia. Tentu saja mereka pun berhak untuk mendapatkan kenikmatan tersebut di stadion.
Keamanan dan kenyamanan adalah hak penonton tanpa membedakan dari aspek apa pun untuk dapat menikmati pertandingan sepakbola.
Penulis: Dr. Adiwarman, S.Sos., S.H., M.H., Dosen Universitas Indonesia