Sportify.id - Di beberapa liga sepakbola terkemuka Eropa seperti Inggris, Spanyol, Jerman, Perancis, Italia, penguasa klasemen puncaknya berputar di antara klub-klub yang disebut the big 4 atau the big 3 atau bahkan the big 5. City menjadi juara EPL beberapa tahun terakhir. Masih ada Manchester United, Liverpool, Arsenal. Kini Arsenal tengah memimpin EPL. Chelsea tertinggal dalam perburuan titel juara.
Di Bundesliga, Bayern Munchen adalah dominatornya, pendampingnya adalah Borussia Dortmund, Stuttgart atau Werder Bremen dan Wolfsburg beberapa tahun silam. Hamburg SV pernah menjadi tim kuat di Bundesliga.
La Liga secara berturutan dikuasai oleh dua rajanya, FC Barcelona dan Real Madrid, sesekali diselingi oleh Atletico Madrid.
Perancis memiliki Paris Saint Germain yang beberapa tahun terakhir merajai Ligue 1. Sebelumnya Olympique Lyonais menguasai puncak klasemen Ligue 1. Beberapa tahun lampau, ada AS Saint Ettiene, Marseille, AS Monaco pernah menjadi juara. Tetapi konsistensi klub Perancis tidak selalu terjaga. Saat ini AS Saint Ettiene menghilang dari persaingan.
Di tanah Italia Juventus dan duo Milan adalah rajanya. Diselingi oleh Napoli atau AS Roma. Di luar itu, sepakbola menampilkan kejutan. Klub yang tidak diperhitungkan menjadi kampiun di liga top negaranya.
Tahun 1991, Sampdoria memenangi titel Serie A di tengah raksasa AC Milan, Juventus dan Inter Milan. Saat itu bintang-bintang top dunia berada di Seria A. Ada trio Belanda Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Marco van Basten di AC Milan, trio Jerman di Inter Milan, Jurgen Klinsmann, Lothar Matthaus, Andreas Brehme, Napoli diperkuat sang dewa Diego Maradona dan Careca.
Masih ada striker Rudi Voller di AS Roma, Roberto Baggio di Juventus. Apakah Il Samp klub semenjana? Tentu hal itu tidak dapat diterima sepenuhnya. Il Samp bukan tim semenjana lantaran ada bintang di skuat. Saat itu Sampdoria diperkuat pemain-pemain seperti duo penyerang Gianluca Vialli, Roberto Mancini, kiper Gianluca Pagliuca yang menjadi kiper timnas Italia, bek Pietro Vierchowod, gelandang bertahan timnas Brazil Toninho Cerezo serta sayap Attilio Lombardo.
Tetapi tetap saja Il Samp tidak pernah diperkirakan akan mampu menembus dominasi penguasa Seria A dari Utara seperti Juventus, Milan, Inter. Kualitas bintang yang ada di Il Samp memang kalah megah dan mentereng dengan para penguasa tersebut. Oleh sebab itu, juara di 1991, Il Samp tetap dianggap sebagai kejutan.
Berselang beberapa tahun, fenomena Il Samp terjadi pada SS Lazio. Juventus yang unggul 9 angka kemudian mengalami penurunan kinerja di lapangan, kalah 3 kali termasuk dari Lazio. Di pertandingan terakhir, Juventus malah kalah dan Lazio menang untuk memenangi Serie A 1999-2000.
Sama halnya dengan Sampdoria, Lazio memiliki skuat bintang seperti gelandang Argentina Juan Sebastian Veron dan Diego Simeone, sayap kiri cepat Pavel Nedved (Republik Ceko), bek tengah hebat Alessandro Nesta, Nestor Sensini (Argentina), Sinisa Mihaijlovic (Serbia), penyerang Marcelo Salas yang berduet dengan Roberto Mancini (Italia).
Masih ada penyerang Alen Boksic (Kroasia) dan Fabrizio Ravanelli (Italia). Yang tidak kalah penting adalah sang allenatore, Sven Goran Eriksson (Swedia). Dengan kualitas skuat demikian, Lazio sanggup bersaing dengan Juventus hingga di pertandingan terakhir dan menjadi juara.
Berbeda dengan apa yang terjadi dengan Leicester City di tahun 2015-2016. Tim yang berisi pemain-pemain yang tidak terkenal. Siapa yang familiar dengan nama bek Robert Huth (Jerman), gelandang bertahan N’golo Kante (Perancis), Danny Drinkwater (Inggris), striker Jamie Vardy (Inggris), Sinji Okazaki (Jepang), sayap Ryad Mahrez (Maroko), serta kiper Kasper Schmeichel (Denmark) yang mampu dioptimalkan oleh pelatih semenjana pula Claudio Ranieri (Italia). Ini adalah kejutan sesungguhnya.
Pertandingan demi pertandingan, dilewati Leicester dengan kemenangan atas tim yang sepadan serta mampu menahan tim-tim besar. Ranieri, dalam perjalanan di persaingan EPL 2015-2016, mengatakan bahwa terlalu dini untuk berpuas diri dan menganggap layak sebagai penantang serius meraih titel juara. Dan itulah yang terjadi pada akhir kompetisi. Kini Leicester tidak mampu menjaga konsistensinya, pemainnya pun banyak yang diambil klub rival.
Musim 2023-2024 ada Bayer Leverkusen di Bundesliga yang meniti jalan sejarah Leicester City di EPL 2015-2016. Hingga pertandingan ke 28, Leverkusen memimpin klasemen, berjarak 16 poin dengan sang raja Bundesliga, Bayern Munchen. Praktis persaingan ada pada keduanya. Borussia Dortmund tercecer jauh dengan 53 poin. Bremen dan Wolfsburg terdampar di papan tengah, bahkan dekat dengan zona degradasi.
Pelatih Leverkusen, Xabi Alonso, sungguh akan melampaui pencapaian Ranieri bersama Leicester di EPL pada musim 2015-2016. Beberapa hal yang dapat diajukan sebagai alasan. Pertama, Alonso adalah pelatih debutan Bundesliga. Alonso melatih Real Sociedad B setahun sebelum bergabung ke Leverkusen.
Kedua, dominasi Leverkusen demikian kuat, unggul 16 poin atas Munchen. Ketiga, Leverkusen memiliki pertahanan yang tangguh, kebobolan 19 dalam 28 pertandingan. Kinerja ofensifnya pun bagus, Leverkusen mampu mengelontorkan bola sebanyak 69 kali ke gawang lawan. Selisih 50 dengan gol kebobolannya! Tidak ada bintang kelas satu di skuat Leverkusen, tetapi Alonso mampu mengoptimalkannya untuk mengarungi Bundesliga.
Menguntungkan Alonso memiliki pemain dengan kemampuan yang sama, sehingga ketika dirotasi kekukuhan formasi permainan Leverkusen tidak berubah. Mental ingin menang dan berjuang untuk tidak kalah ditanamkan betul oleh Alonso. Mirip dengan Ranieri dalam soal ini. Ranieri menghadapi memiliki the big 4 atau 5 EPL.
Tentu tidak dapat dikatakan perjuangan Leverkusen lebih ringan ketimbang Leicester. Tetap saja Leverkusen harus mengatasi sang raja Bayern Munchen, Borussia Dortmund, VFb Stuttgart. Faktanya, Leverkusen meninggalkan Munchen dan Stuttgart sedemikian jauh.
Dua atau tiga pertandingan akan menasbihkan Leverkusen menjadi kampiun untuk pertama kali dalam sejarah klub maupun Bundesliga. Alonso dan Leverkusen sedang menuju sejarah hebatnya.
Penulis: Dr. Adiwarman, S.Sos., S.H., M.H., Dosen Universitas Indonesia