Sportify.id - Setiap pesepakbola selalu mengidamkan memperkuat tim nasional negaranya untuk bermain di kompetisi level tertinggi, seperti Piala Eropa, Copa America, Piala Afrika atau Piala Asia dan tentunya the ultimate football competition, Piala Dunia.
Timnas Indonesia menjadi pembicaraan di jagat persepakbolaan di Asia, terutama di Asia Tenggara. Beberapa nama pemain berdarah Indonesia bermain untuk timnas Garuda. Pemain kelahiran Belanda dan bermain di Eredivisi, seperti Shane Pattynama, Rafael Struick, Ivar Jenner, Jay Idzes, Ragnar Oratmangun dan Thom Haye atau yang berkiprah di Inggris seperti Elkan Baggot, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On. Masih ada Jordi Amat yang pernah bermain di liga Spanyol, bersama Espanyol, Sandy Walsh yang bermain untuk KV Mechelen, Belgia.
Apa yang mendorong para pemain ini bersedia membela timnas Garuda?
Para pemain tersebut berkiprah di kompetisi sepakbola Belanda, Inggris, Belgia dan Spanyol yang merupakan pusat persepakbolaan dunia. Persaingan untuk menembus timnas di negara kelahiran mereka seperti Belanda, Belgia, Spanyol sulit lantaran stok pemain berlimpah. Amat kompetitif peluang untuk memperkuat tim nasional Belanda, jika tidak memiliki kemampuan level teratas.
Bermain di liga utama negara-negara tersebut tidak serta merta menjamin tersedianya peluang untuk memperkuat timnas tanah kelahirannya.
Gelandang sentral Thom Haye, full back Sandy Walsh telah berusia 29 tahun. Mereka berada di penghujung karir sepakbola profesionalnya. Haye tidak pernah memperoleh panggilan untuk memperkuat timnas Belanda.
Secara teknik, Haye adalah gelandang sentral yang memiliki kemampuan amat baik. Ia adalah penendang andal untuk bola mati, mampu memainkan peran sebagai inisiator serangan dan memberikan umpan bagus bagi penyerang.
Di timnas Belanda ada gelandang milik Barcelona Frenkie de Jong, Ryan J. Gravenberch (Bayern Munchen) dan duo Atalanta Teun Koopmeiners dan Marten de Roon. Tipis peluang Haye untuk dipanggil ke timnas Belanda.
Demikian pula dengan Walsh. Kecil peluangnya untuk mendapatkan panggilan Roberto Martinez untuk mengisi sektor bek Belgia. Bagi keduanya di penghujung karir, memilih Indonesia adalah keputusan bagus.
Sama halnya dengan pemain naturalisasi lainnya. Peluang terbaik adalah lolos ke Piala Asia 2027 jika berhasil memenangkan satu pertandingan melawan Irak atau Filipina di kualifikasi Piala Dunia sembari melaju ke babak berikutnya.
Jika berhasil menembus Piala Dunia 2026, maka pilihan pemain berdarah Indonesia tersebut amat diidamkan seluruh pesepakbola di dunia.
Faktor yang tidak dapat diabaikan adalah kehadiran Shin Tae-yong sebagai pelatih yang pernah memimpin timas Korea Selatan bermain di Piala Dunia 2018. Satu pertandingan yang diingat fans sepakbola dunia adalah ketika Korea Selatan yang dilatih STy mampu menundukkan Jerman 2-0!
Kini coach STy tengah mencoba peruntungan untuk menembus Piala Dunia 2026 dan Piala Asia 2027 dan yang terdekat mencoba memenangkan ASEAN Cup (dulu Piala AFF). Selain Walsh, Haye, Amat dan Marc Klok, pemain-pemain seperti Idzes, Oratmangun, Hubner, Struick, Jenner, Baggot rata-rata berusia 20-23 tahun. Masih panjang karir mereka bersama dengan timnas Garuda.
Fenomena pemain naturalisasi atau pemain non-pribumi telah lama terjadi. Belanda merupakan tim yang berisikan pemain dengan darah keturunan non Belanda seperti Giovanni von Bronckorst yang berdarah Maluku (Indonesia), Ruud Gullit yang berasal dari Suriname; atau Perancis yang memiliki legiun sepakbola dari berbagai negara.
Zinedine Zidane merupakan imigran Aljazair, Youri Yorkaeff berdarah Armenia, Christian Karembue berdarah Kaledonia, Claude Makalele berasal dari keluarga imigran Afrika dan masih banyak lagi. Artinya ini merupakan fenomena yang biasa untuk mencapai prestasi suatu timnas.
Indonesia kini telah menjadi destinasi menarik pemain-pemain berdarah Indonesia. Haye, Idzes, Oratmangun, Tjoe A-On memilih Indonesia bukan semata-mata untuk menyelamatkan karir, melainkan ada alasan personal.
Hal itu ditunjukkan dengan permainan sepenuh hati dan mengerahkan segenap kemampuan serta pengalaman ketika bermain untuk timnas.
Boleh jadi nanti ini menjadi pakem pembentukan timnas Indonesia tanpa melupakan pengembangan liga domestik sebagai pemasok pemain untuk timnas.
Penulis: Dr. Adiwarman, S.Sos., S.H., M.H., Dosen Universitas Indonesia.