Pengamat Sepak Bola Nasional, Tommy Welly (Foto: Sportify Indonesia)

Catatan Sepak Bola Teuku Chairul: Mencoba Memahami Towel

Sportify.id - Tommy Welly atau Towel masih terduduk. Kepalanya tersandar di sofa dengan mata tetap menatap televisi yang menyiarkan langsung partai Timnas Indonesia versus Vietnam. 

 

Sementara di sekelilingnya puluhan orang  berjingkrak-jingkrak sambil bertepuk tangan gembira menyambut gol timnas ke gawang Vietnam.

 

Atas sikap dan gesturenya itu Towel lalu menuai hujatan. Trending negatif ratusan bahkan ribuan postingan bermunculan di berbagai media sosial. Seperti biasa, Towel santai saja menghadapinya.

 

Malam itu Towel seperti sendirian. Sepi di tengah riuh rendah kegembiraan atas kemenangan timnas. Karena sejatinya sebagai anak bangsa, para “fans”nya menginginkan dia bersikap respect terhadap pencapaian timnas di bawah pelatih Shin Tae-yong. 

 

Bergeming, Towel berdalih dia punya cara sendiri mengekspresikan kegembiraannya. Tak perlu harus jingkrak-jingkrak dan bertepuk tangan. 

 

Argumentasinya kembali mengundang riuh rendah dunia netizen. Bukan Towel namanya kalau dia kemudian mau berkrompomi dengan suasana kegembiraan dan pekik kemenangan. Keukeuh!

 

Mencoba memahami atau mengerti Towel, tentu akan membuat kita sedikit lebih bisa berkrompomi dengan pilihan sikap, gesture dan narasi yang dia bangun setiap menilai Timnas, STy dan Federasi. Apalagi dia sekarang telah menjadi public figure, khususnya dalam kancah sepakbola nasional.

 

PERILAKU TOWEL 

Bermodal puluhan tahun bergaul dengan rekan-rekan dunia jurnalis dari mulai Surat Kabar, Majalah, Radio dan Televisi, tentu saya punya sedikit ruang dan pengalaman dalam membaca perilaku rekan2 yang bergelut di dunia jurnalis. Tak banyak. Tapi lumayanlah. 

 

Ada 3 ciri khas pendekatan perilaku, yakni Pengalaman Empiris, Egois dan Diferensiasi yang bisa kita jadikan sebagai referensi dalam mencoba memahami sikap Towel.

 

Kita mulai saja dari Ego. Ini khas dalam diri seorang dengan latar belakang jurnalis. Bukan ego dalam arti negatif. Ego seorang jurnalis adalah daya tahan dan energi terbesar dalam meyakinkan khalayak dan komunitas. 

 

Sehingga setiap kata, kalimat, bicara, komen yang dikeluarkan wajib dipertanggungjawabkan kejurnalisannya. Dia tak akan mengeluarkan statement yang dia tidak bisa pertanggungjawabkan argumentasinya. 

 

Ego itu tameng sekaligus jati diri dan pertaruhan reputasi intelektualitasnya. Khalayak pemirsa dan pembaca lalu mengenalnya sebagai jurnalis yang memiliki integritas dan kejujuran.

 

Kita beranjak ke poin Diferensiasi. Seseorang bila mau cepat dikenal, dia harus membangun citra diri serta memiliki ciri khas. Bahasa kerennya diferensiasi atau keunikan yang khas dibanding yang ada beredar di umum. 

 

Dia musti beda. Unik. Baru laku.

Dunia Media merasakan bagaimana diferensiasi menjadi harta karun dalam merebut hati pemirsa. Produksi program, angle tulisan dan jepretan kamera yang unik dan berbeda yang dapat merebut hati pemirsa, maka ia akan segera menaikan rating sekaligus pundi-pundi kocek lewat pengiklan. Dan itu jumlahnya tidak banyak. 

 

Media yang mencoba ikut-ikutan atau dikenal dengan program me too, bila tidak cukup kuat, segera akan ditinggalkan pemirsanya. Dan dunia jurnalistik yg menjadi pilihan studi dan karir seorang Tommy Welly juga menganut prinsip yang sama. 

 

Maka ketika semua berteriak, berjingkrak dan bertepuk tangan, dia memilih tetap duduk dengan mimik wajah datar ciri khasnya. So what? 

 

Hal terakhir yaitu Pengalaman Empiris. Warna warni karakter pribadi kita hari ini sedikit banyak adalah hasil dari goresan-goresan pena berbagai pihak, situasi dan waktu. Mulai dari masa tumbuh kembang dgn keluarga, sekolah, lalu membangun karir dan bekerja, berkeluarga dan lingkungan pergaulan. 

 

Ada keluarga yang menerapkan hubungan akrab saling menghargai anggotanya. Ada juga yg menerapkan disiplin tegas dimana semua diukur berdasarkan prestasi. Ada juga yang masing-masing anggota keluarga sibuk, kering dengan komunikasi dan puja puji memotivasi satu sama lain. Dan banyak lagi variasi hubungan keluarga yg terbangun.

 

DIBENCI DAN DIKAGUMI

Kembali ke Towel. Dia adalah manusia biasa seperti kita dengan segala latar belakang masa lalu, suka duka, bahagia dan sedih, sukses dan gagal, senyum dan marah, senang dan kecewa. 

 

Dalam hubungan dengan dunia sepakbola  yang akrab dengan kesehariannya, tentu sedikit banyak ikut andil juga telah membentuk karakter pribadinya, membumbungkan namanya dan tentu saja menjadi public figure yang punya banyak penggemar dan haters. 

 

Tidak banyak juga komentator yang bisa berkiprah di federasi dalam karir sebagai seorang jurnalis seperti Towel. Senang hati ketika direkrut atau kecewa dan sakit hati ketika harus meninggalkan federasi, tentu hanya dia dan hatinya yang bisa menjawab dengan jujur. 

 

Hati orang siapa tau. Tak perlu juga kita menduga-duga ini dan itu. Intinya, Pengalaman Epiris masa lalu, Ego dan Diferensiasi telah mewarnai perjalanan hidup Towel yang kita kenal, kagumi dan benci sekalipun, sebagaimana yang kita lihat hari ini.

 

Di malam 3-0 itu, ribuan hujatan yang langsung berhamburan kepada Towel atas gesture dan reaksinya, pasti dapat dia nikmati sekaligus maklumi. Dan sebagai intelektual, dia pun siap untuk berdiskusi bahkan berdebat diberbagai media mainstream atau podcast atau medsos atau di group group WA yang mengkritisi sikapnya. 

 

Dia cukup gantleman menghadapi kritikan sekaligus cukup siap menjawab dengan bernas sesuai sudut pandang yang diyakini. Sesuai tagline kebanggaannya, "Jadi Solusi bukan Polusi". Tagline yg cukup lama juga dia bangun bersama podcastnya. Meski malam itu, banyak pihak yang mengatakan dia adalah polusi ketimbang solusi sepakbola. Well… silahkan saja berpendapat layaknya Tommy Welly. 

 

PANGGILAN BUNG 

Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa ditulisan ini saya tidak menyebut kata BUNG, padahal sehari-hari dia biasa menyematkan kata BUNG di depan namanya? 

 

Begini, panggilan BUNG itu dalam sejarah bangsa ini adalah sesuatu yang sangat membangkitkan energi heroik bangsa. Baik ketika era perjuangan kemerdekaan maupun di hari-hari Indonesia Merdeka. 

 

Pekik kemerdekaan dengan suara yang menggelegar memotivasi yang hadir maupun yang mendengar seperti membakar semangat patriotisme dan melecut motivasi tinggi demi tanah air tercinta dan kibaran merah putih yang gagah di angkasa. Inspiratif !

 

Maka siapa pun yang menginginkan dirinya dipanggil BUNG, maka dia harus mampu menjadi komando pemberi inspirasi kepal tangan semangat bela, dukung dan cinta Indonesia. Di semua event. Di setiap waktu. Termasuk di sepakbola. 

 

Bila tak mampu bersikap patriotik seperti itu, dengan berbagai alasan yang dikemas, maka - mohon maaf - panggilan BUNG tak cukup pantas disemat karena sejarah tidak pernah memperlihatkan seseorang yang dipanggil BUNG terduduk lemas di saat rakyat gegap gempita berteriak, berjingkrak, bertepuk tangan untuk kejayaan dan kemenangan Indonesia.

Itu argumentasinya. Karena sejatinya, panggilan seseorang menunjukan karakternya.

 

Anyway, Towel telah memilih jalannya dalam sikap, urun rembuk, saran, komentar, kritik dan opini bagi sepakbola nasional. Kita apresiasi positioning yang diambil saat ini : Kritis dan Berani Beda. Rupa-rupa dan warna-warni kita, seharusnya indah di mata dan nyaman di hati dalam pergaulan. Meski kadang hati mendidih, usahakan temperatur kepala kita tetap cukup sampai di level hangat saja. Tak perlu kepala ikut-ikutan mendidih. Apalagi sampai dibawa ke lapangan hijau. Karena hilang atau cideranya satu kawan, tak terbilang penyesalan dan kerugiannya. Kita berteman untuk selamanya.

 

Teruslah berkibar Towel.

 

Bila suatu saat nanti --Towel rindu suasana masa kecil ketika bergembira, berteriak, bertepuk, berjingkrak-jingkrak saat menonton timnas kebanggaan saat itu yang menang dari lawan -- kemudian anda memekikan kata, "Timnas Indonesia Hebaaat!" Sambil berjingkrak, bertepuk, kepal tangan dan tertawa bersama ribuan bahkan jutaan penonton yang lain, yakinilah, ketika itu saya akan menjadi orang yang paling bahagia sambil berlari memanggil-manggil Anda  dengan sebutan yang sangat Anda cintai : BUNG Towel… Timnas Menang !!! Meski mungkin…, ketika itu saya sudah tidak ada lagi. Sudah bergabung di dunia lain bersama Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Bung Syahril dan Bung Bung lain yang pernah memekikan kata "Merdekaaaa !!!".

 

Ramadhan 1445H

Teuku Chairul Wisal - Pengamat Sepak Bola Nasional, Warga RSN (Rembuk Sepak Bola Nasional)

    Terbaru

    Terkait