Timnas tidak boleh seperti menara gading. Terpisah dan tidak terkoneksi dengan kompetisi Liga. Timnas adalah sari patinya kompetisi. Sebaliknya kompetisi merupakan sumber, penyedia atau rahimnya timnas.
Jadi ada korelasi antara kompetisi liga dengan timnas. Liganya baik, timnas pun harusnya ikut membaik. Timnasnya baik, harusnya karena Liganya yang makin membaik. Begitulah hukum sepakbolanya.
Aneh tapi nyata, hukum sepak bola itu tak berlaku disini. Timnas sedang membaik, tapi bukan karena kualitas liganya dalam hal ini Liga 1. Timnas membaik karena kebijakan ketum PSSI Erick Thohir lewat program naturalisasi. Kualitas timnas jadi terdongkrak karena akselerasi bernama naturalisasi itu.
Sebaliknya kompetisi liga masih banyak pekerjaan rumah (PR) disana sini. Liga 1 baru menghasilkan juara-juara yang sebatas jago kandang. Begitu mewakili Indonesia di level AFC, langkahnya langsung terseok-seok alias memble. Performa atau prestasi klub-klub Indonesia dikancah AFC dalam delapan (8) tahun terakhir yang menjadi perhitungan AFC Club Competitions Ranking menjadi sangat minim.
Tak heran, ranking liga 1 akhirnya jeblok diurutan 28 untuk level Asia dan peringkat enam (6) dikawasan Asean. Kalah jauh oleh Thailand diranking delapan (8), Malaysia (12), Vietnam (14), Singapura (22) dan Filipina (25).
Konsekuensinya tak ada wakil klub Indonesia di AFC Champions League Elite. Liga 1 hanya mendapatkan masing-masing satu jatah di AFC Champions League Two dan AFC Challenge League.
Fakta inilah yang harus menjadi perhatian PSSI. Setelah satu tahun, Erick Thohir fokus pada akselerasi timnas lewat naturalisasi, sekarang saatnya juga, PSSI mengakselerasi Liganya. VAR sudah diberikan, tapi itu saja tidak cukup. VAR hanyalah salah satu solusi dari sekian banyak problematika liga.
Urusan liga profesional memang ranahnya operator liga bernama PT.LIB. Tapi PSSI jangan lepas tangan begitu saja. Erick Thohir harus cawe-cawe. LIB hanyalah sebatas pelaksana yang diberi kewenangan mengelola liga. Kinerjanya harus tetap dievaluasi. Sebagai operator liga, LIB harus dicermati apa gagasan besar sepakbola dan bisnisnya. Sayangnya, sejauh ini belum terlihat apa ide besar yang disodorkan LIB.
Apakah perubahan format liga dengan adanya Championship Series meningkatkan kualitas sepakbolanya atau hanya sekadar menguntungkan aspek industrinya saja? Apakah club licensing profesional sudah dijalankan secara maksimal? Apakah perbaikan kualitas wasit sudah signifikan? Apakah integritas sepak bola makin membaik? Apakah kecurigaan adanya pengaturan skor makin berkurang? Lalu bagaimana juga dengan penegakan disiplin atau hukum sepakbolanya? Apakah sudah berjalan konsekuen dan konsisten?
Itulah sederet pertanyaan yang menjadi pekerjaan rumah dari kompetisi liga kita. Jadi sudah saatnya memasuki tahun kedua PSSI periode Erick Thohir ini, kompetisi liga menjadi prioritas perhatian. Supaya nantinya ada koneksi antara Liga dengan timnas. Liganya makin sehat, makin dilihat dan makin dirasakan kontribusinya untuk timnas. Jangan seperti sekarang yang bagai air dan api seperti lirik dilagunya NAIF.
Bung Towel