Tommy Welly (Dok: Sportify Indonesia)

Tommy Welly: Sentilan 35 Menit atau Dalih Ala Shin Tae-yong

Sportify.id - Sudah dua kali, Shin Tae-yong sentil kompetisi Liga 1. Yang pertama, usai kalah 0-4 dari Australia di Piala Asia kemarin. “Kualitas liganya diperbaiki,” ucap STY dihadapan pers. Yang terakhir adalah kritikan keras STY tentang kondisi fisik pemain Liga 1 yang buruk. Hal ini disebutnya terkait dengan actual atau effective playing time Liga 1 yang sangat rendah.

STY mengklaim rataan playing time Liga 1 saat ini hanyalah 35 menit. “Liga yang baik itu biasanya 60 menit. Coba Indonesia berapa? 35 menit, ada beda 25 menit, jadi Anda bisa tahu seperti apa fisik pemain saat pertandingan itu seburuk apa. Jadi, pemain tidak bisa mengikuti tempo pertandingannya," ungkap Shin Tae-yong kepada Tempo, di Jakarta (2/2).

Sasaran kritik STY ini sangat jelas, kepada LIB sebagai operator liga, klub-klub dan juga PSSI. Tapi sejauh ini LIB masih bungkam. Tidak ada konfirmasi ataupun bantahan soal rataan actual playing time Liga 1 yang hanya 35 menit seperti klaim STY.

Saya sendiri tidak tahu angka 35 menit ini muncul dari mana? Apakah ini hasil pantauan sendiri STY atau data dari LIB. Kejutan juga jika itu muncul dari pantauan langsung STY, karena biasanya begitu ada waktu senggang, STY lebih sering memilih liburan ke kampung halamannya daripada menyatroni pertandingan-pertandingan Liga 1.

STY vs Klub                                                                                                                                                       

Dengan kata lain, sentilan 35 menit ini bisa jadi bumerang bagi STY. LIB, dan klub-klub termasuk para pelatihnya pasti panas kuping mendengarnya. Situasi ini dikhawatirkan jadi kontra produktif untuk timnas. Kenapa? Karena PSSI lewat exco-nya Arya Sinulingga sudah mengingatkan perihal kelemahan komunikasi STY dengan klub-klub dan para pelatih Liga 1. Bahkan, alih-alih menjalin komunikasi dengan klub Liga 1 saat senggang seperti sekarang, STY justru memilih balik kampung dan menjalani ‘kerja sambilannya’ sebagai Ketua Komite Penasihat Seongnam yang sudah diembannya sejak Oktober 2023.

Jadi keinginan PSSI seperti diutarakan Exco Arya Sinulingga agar STY memperbaiki kelemahan komunikasinya dengan klub-klub Liga 1 sepertinya masih jauh panggang dari api. Padahal saat ini, sudah dua klub yakni Persija dan Borneo FC yang terang-terangan menolak lepas pemainnya ke timnas u23.

Balik ke Laptop, Soal 35 Menit                                                                                               

Disisi lain, sebagai operator liga LIB seharusnya memiliki data actual playing time itu. Setidaknya lewat Technical Study Group-nya (TSG). Sayangnya, kita tidak pernah tahu apakah saat ini ada TSG yang dibentuk dan bekerja menganalisis kompetisi Liga atau tidak? Ingat TSG hadir bukan sekadar untuk memilih pemain terbaik di Liga 1 dan 2 saja. Tapi lebih jauh dari itu termasuk menganalisis Actual/Effective Playing Time kompetisi baik Liga 1 maupun Liga 2.

Nah, bicara tentang Actual atau Effective Playing Time sebenarnya bukan baru di sepak bola modern. Asian Football Confederation (AFC) sejak decade lalu tepatnya tahun 2013 sudah mengkampanyekan isu ini. Slogannya,”60 Minutes, Don’t Delay, PLAY!”

Ini isu global dan memang bukan hal sederhana untuk mencapai standar effective playing ball selama 60 menit. Sebagai contoh, studi yang dilakukan AFC menemukan data bahwa rataan actual playing time diseluruh kompetisi AFC berkisar pada 52,07 menit.

Bahkan dievent paling spektakuler Piala Dunia-pun, rataan actual playing ball atau ball in play berkisar 55,09 menit di FIFA World Cup Rusia 2018 dan 58,04 menit di Piala Dunia 2022 Qatar. Artinya masih dibawah 60 menit.

Begitu juga kompetisi elit dunia seperti English premier League (EPL), berdasarkan data dari OPTA Analyst rataan actual playing time EPL dalam 10 tahun terakhir, berkisar diangka 54,52 menit.

Lalu bagaimana dengan kompetisi LIga 1 Indonesia yang saat ini menempati ranking 27 di Asia? Bahkan untuk Asia Tenggara sendiri, Liga 1 masih berada diurutan keenam kalah dari Thailand (peringkat 8 Asia), Malaysia (12), Vietnam (14), Filipina (21), dan Singapura (22).

Artinya, bukan pasrah tapi bisa dimaklumi jika rataan actual/effective playing time Liga 1 sekarang ini masih dibawah 50 menit. Tapi apakah betul 35 menit seperti diklaim STY? Ini yang perlu dianalisis, dibuktikan sekaligus dibuka datanya. Syukur-syukur ada di kisaran angka yang lebih baik misalnya 40-45 menit.

Kenapa ini penting? Supaya klaim angka 35 menit ini tidak menjadi dalih terutama bagi STY ketika timnas tak kunjung berprestasi dan gagal mempersembahkan trophy.

Penulis: Tommy Welly

    Terbaru

    Terkait